Kelurahan Watusampu pada awalnya merupakan wilayah dengan karakter pedesaan yang memiliki pola kehidupan komunal, bergantung pada sumber daya alam pesisir dan kebun. Perkembangan wilayah Kelurahan Watusampu mulai terlihat sekitar tahun 1930, pada masa ketika Nusantara masih berada di bawah pengaruh kekuasaan Pemerintah Kolonial Belanda dan belum memasuki era kemerdekaan negara. Pada periode tersebut, Watusampu masih berupa kawasan permukiman pedesaan yang perlahan berkembang dari aspek jumlah penduduk, aktivitas ekonomi berbasis kelautan dan perkebunan, serta pola sosial masyarakat yang kental dengan tradisi kolektivitas. Dalam Bahasa Indonesia, Watusampu berarti batu serumpun. Batu serumpun ialah batu yang bersusun bermakna desa yang memiliki banyak batu yang bersusun. Awalnya kelurahan Watusampu bernama Kampong Lolu Va Sampu U, artinya dari kata Loli yang berasal dari nama kampung pertama dari Hulu, sedangkan arti kata Va yaitu satu rumpun atau ari – ari yang berasal dari satu nenek moyang, kata Sampu U artinya berasal dari satu sumber atau pohon adat di perkampungan. Pohon adat tersebut terdiri dari, Adat Sembilan yang berkedudukan di wilayah Pantai Manu dan Jene Bete, Adat Tujuh yang berkedudukan di wilayah Buntovou, dan Adat lima yang berkedudukan di wilayah Vanere. Pada tahun 1888, Terjadi peperangan antara warga lokal Kayumalue dengan Penjajah kolonial Belanda, Di saat itu Warga lokal Watusampu turut serta membantu peperangan rakyat Kayumalue. Rakyat Watusampu dalam peperangan tersebut berada di bawah komando dua pemimpin lokal yang dihormati, yakni Tampalolo dan Rululanta, yang berperan sebagai tokoh penggerak perlawanan sekaligus simbol persatuan masyarakat pesisir. Dengan pengaruh kepemimpinan yang kuat, keduanya berhasil menyatukan warga untuk ikut serta mempertahankan wilayah dari tekanan kolonial, khususnya dalam pertempuran mendukung saudara serumpun mereka di Kayumalue melawan kekuasaan Pemerintah Kolonial Belanda. Sosok Tampalolo dan Rululanta kemudian dikenang dalam sejarah lisan dan memori kolektif masyarakat Watusampu sebagai pemimpin tangguh yang menyalakan semangat juang, menjaga solidaritas antar kampung, dan membuktikan bahwa perlawanan rakyat lahir dari keberanian, kebersamaan, serta kecerdikan dalam memanfaatkan alat pertahanan seperti meriam yang tersedia pada masa itu. Sumber Gambar: Mahasiswa MBKM Kelurahan Cantik “Galeri barang antik” Seiring pertumbuhan penduduk, perkembangan infrastruktur, serta penataan administrasi pemerintahan di era modern, kawasan ini mengalami transformasi menjadi wilayah Kelurahan. Pada masa awal pembentukannya, perekonomian di Kelurahan ini bertumpu pada sektor kelautan dan perkebunan, dengan mayoritas pendapatan masyarakat bersumber dari aktivitas penangkapan ikan dan pengelolaan kebun. Perubahan status dari desa ke kelurahan tidak hanya menjadi penanda perkembangan wilayah secara geografis dan birokratis, tetapi juga mencerminkan dinamika sosial ekonomi masyarakatnya yang terus berkembang dan semakin dikenal luas sebagai bagian penting dari kawasan pesisir perkotaan di Kota Palu. Hal ini ditandai dengan perubahan struktur mata pencaharian, komposisi sumber pendapatan mengalami pergeseran signifikan. Saat ini sebagian besar warga bekerja di sektor pertambangan dengan kontribusi sekitar 80%, sementara 20% sisanya masih bergantung pada sektor perikanan dan perkebunan sebagai sumber penghasilan utama.